08.00 - 16.00 WIB
081.326.350.313
081.326.350.313

( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0
Menu

Perbedaan Paes Ageng Yogyakarta dan Solo

Sunday, October 21st 2018.

beda paes ageng yogyakarta dan solo

sanggul-bokor-mengkurep

Sanggul Paes Yogyakarta:

Rambut pengantin disanggul membuat cawan yg ditengkurapkan hingga disebut menurut bahasa Jawa jadi bokor mengkurep. Sanggul rambut itu di isi dengan potongan daun pandan serta ditutup rajutan bunga melati. Gabungan daun pandan serta bunga melati merupakan keharuman yg berkesan religius. Ini juga sekaligus mempunyai arti simbolis kalau pengantin didambakan bisa membawa nama harum yg bermanfaat buat masyarakatnya.

Di samping sanggul bokor mengkurep sebagai accessories kudu pakaian pengantin paes ageng masuh ada 2 mode sanggul style Yogyakarta kembali adalah sanggul “ukel tekuk” serta “ukel kondhe”.

Mengenai sanggul ukel tekuk style Yogyakarta ciri-cirinya berkebalikan dengan sanggul style Solo adalah bersifat besar ke bawah. (Lihat gambar)
Sanggul bokor mengkurep dihiasi kembali dengan jebehan, adalah 3 bunga korsase warna merah-kuning-biru/hijau yg dirangkai jadi satu serta dipasang disamping kiri – kanan gelung.
Ditengah sanggul dihias dengan bunga merah yg dimaksud ceplok, serta di kiri – kanan ceplok itu disematkan masing2 satu bros emas permata.

Di bagian bawah rada menjurus kanan sanggul dipasang untaian melati sepanjang 40 cm, yg selintas mirip belalai gajah hingga dinamakan dalam bahasa Jawa jadi gajah ngoling. Hiasan ini berarti kalau penggunanya memperlihatkan kesucian/kesakralan baik jadi putri ataupun kesucian tekad dalam melakukan hidup yg sakral juga.

Pada sisi atas sanggul disematkan hiasan kepala yg dimaksud cunduk menthul, terdiri atas 5 buah tusuk sanggul yg memiliki bahan lentur sesuai sama namanya serta bersifat bunga seruni. Angka 5 pada jumah cunduk menthul melambangkan 5 rukun Islam. Pengenaan cundhuk menthul alami transformasi dari budaya Hindu ke Islam. Semasa budaya Hindu cunduk menthul cuma sejumlah 3 yg melambangkan Trimurti, selanjutnya awal budaya Islam masuk cuma digunakan 1 cunduk menthul yg melambangakan keesaan Tuhan. Banyaknya cunduk menthul selamanya ganjil, angka ganjil di percayai memilik kemampuan jadi penolak bala.

Sanggul Paes Surakarta:

Tatanan sanggul belakang yg bersifat bokor mengkurep tdk dikasih jebehan, namun dikasih hiasan berbentuk burung merak. Buat sanggul ukel tekuk style Surakarta (Solo) ciri – cirinya bersifat lebar atas serta ditambahkan hiasan untaian bunga melati yg dimaksud once “bangun tulak”.
Sisi bawah sanggul dipasang untaian melati yg ditaruh menjuntai ke depan dada, yg dinamakan menurut bahasa Jawa jadi tibo dodo.
Rambut pada bagian kiri-kanan kepala diatur demikian rupa hingga mengakibatkan sisi yg melebar sedikit serta rada meruncing yg dinamakan jadi sunggar.
Pada sisi atas sanggul disematkan hiasan kepala yg dimaksud cunduk menthul, yg bersifat flora fauna antara lain: bunga seruni, kupu, kijang, gajah, dll. Banyaknya cunduk methul anatara 7 (pitu dalam bahasa Jawa) melambangkan pitulung, maupun sejumlah 9 yg melambangkan walisanga.

Angka 5 pada jumah cunduk menthul melambangkan 5 rukun Islam. Pengenaan cundhuk menthul alami transformasi dari budaya Hindu ke Islam. Semasa budaya Hindu cunduk menthul cuma sejumlah 3 yg melambangkan Trimurti, selanjutnya awal budaya Islam masuk cuma digunakan 1 cunduk menthul yg melambangkan keesaan Tuhan.

 

(Courtesy :Sumber Artikel ini ditulis sebelumnya oleh: Isti Yunaida/Humas Museum Ullen Sentalu & Christian Maria G/Periset dan Edukator Tur Museum Ullen Sentalu)

New
Rp 85.000
New
Rp 85.000
New
Rp 85.000
New
Melati Solo Putri Mekar Ganda 3 Tibododo

5%

Rp 162.000 170.000
New
Melati Solo Putri Nan Menawan

4%

Rp 213.000 223.000
New
Rp 185.000

Cari Produk

Cek resi

Hubungi Kami

081.326.350.313
081.326.350.313

Pengiriman

Produk Bestseller